Grobogan – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melalui jajaran Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Dersemi, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung, melaksanakan kegiatan penanaman di petak 46A seluas 12,1 hektar pada Minggu (09/11).
Kegiatan ini diikuti oleh jajaran RPH Dersemi bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sendang Wangi Agung Desa Sumber Agung Kecamatan Ngaringan serta para pesanggem yang mengelola lahan di wilayah tersebut.
Pada kegiatan ini, sebanyak 8.882 plances bibit ditanam yang terdiri dari 5.554 bibit tanaman pokok kehutanan jati dan 3.326 bibit tanaman jambu mete sebagai tanaman pengisi. Penanaman dilakukan dengan pola tumpangsari, yaitu sistem penanaman yang memadukan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian pada lahan yang sama. Melalui pola ini, pesanggem dapat menanam tanaman pertanian seperti jagung atau kacang tanah selama masa awal pertumbuhan tanaman kehutanan.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi, melalui Kepala BKPH Bandung, Sri Purwanto, menyampaikan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari komitmen Perhutani dalam mendukung program penghijauan, pemulihan ekosistem hutan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Penanaman ini tidak hanya bertujuan menghijaukan kembali kawasan hutan, tetapi juga menjadi wujud nyata kolaborasi antara Perhutani dan masyarakat. Dengan pola tumpangsari, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengganggu fungsi utama kawasan hutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala RPH Dersemi, Suratno, menuturkan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan langkah awal untuk memastikan keberlanjutan tegakan hutan di wilayah RPH Dersemi. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari penanaman hingga pemeliharaan tanaman.
“Kami berupaya agar kegiatan penanaman berjalan efektif dan tepat sasaran. Keterlibatan LMDH dan pesanggem menjadi kunci keberhasilan, karena mereka yang akan bersama-sama menjaga dan merawat tanaman hingga tumbuh baik. Kami berharap tanaman jati dan jambu mete ini dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat bagi semua pihak,” ujarnya.
Salah satu pesanggem asal Desa Sumber Agung, Pardi, menyampaikan rasa senangnya bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku pola tumpangsari memberikan peluang bagi warga untuk tetap produktif sembari menjaga kelestarian hutan.
“Kami senang bisa ikut menanam. Selain bisa menanam jagung di sela-sela tanaman jati, kami juga ikut merasa memiliki hutan ini. Kalau hutannya lestari, kami juga ikut merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Kegiatan penanaman di Petak 46A ini diharapkan dapat menjadi contoh sinergi positif antara Perhutani dan masyarakat desa hutan, di mana kegiatan kehutanan tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan tetapi juga memberikan dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan. (Mj-A)
Editor : Aris