PURWODADI, (03/03/2026) | Perhutani KPH Purwodadi menghadiri kegiatan Kirab Boyong Grobog yang merupakan rangkaian peringatan 3 Abad Hari Jadi Kabupaten Grobogan Tahun 2026, Selasa (03/03). Kegiatan budaya tersebut berlangsung khidmat dan meriah dengan melibatkan unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelajar, serta berbagai elemen masyarakat Grobogan.
Boyong Grobog merupakan tradisi adat yang sarat makna historis dan filosofis, menggambarkan prosesi pemindahan simbol-simbol kebudayaan sebagai bagian dari perjalanan sejarah Kabupaten Grobogan. Dalam tradisi ini, berbagai benda pusaka, gunungan hasil bumi, serta sesaji diarak secara khidmat sebagai simbol perpindahan pusat pemerintahan dari wilayah Kecamatan Grobogan menuju Kecamatan Purwodadi.
Secara etimologis, kata “boyong” bermakna memindahkan atau memulihkan benda-benda yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan budaya. Sementara itu, “grobog” merujuk pada peti kayu yang pada masa lampau digunakan sebagai tempat menyimpan keris atau benda pusaka, yang menjadi simbol penjaga nilai dan identitas daerah. Tradisi ini menjadi pengingat akan perjalanan panjang sejarah pemerintahan Grobogan hingga mencapai usia tiga abad.
Prosesi kirab diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan pusaka dan gunungan yang diiringi pasukan adat serta kesenian tradisional. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan jalannya kirab yang menjadi simbol semangat “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kuto” dalam membangun desa dan menata kota secara berkelanjutan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Administratur Perhutani KPH Purwodadi Untoro Tri Kurniawan, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, Bupati Grobogan Setyo Hadi, Wakil Bupati Grobogan, Komandan Kodim 0717/Grobogan, Kapolres Grobogan, Kepala Kejaksaan Negeri Grobogan, Ketua Pengadilan Negeri Purwodadi, Ketua Pengadilan Agama Purwodadi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Grobogan, Anggota DPRD Grobogan, Sekretaris Daerah, Staf Ahli Bupati, Kepala Perangkat Daerah se-Kabupaten Grobogan, Kepala Bagian Setda, pimpinan instansi vertikal, jajaran Direktur BUMD Kabupaten Grobogan, serta para ketua organisasi masyarakat.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa kehadiran Perhutani dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan sejarah daerah.
“Kami dari Perhutani KPH Purwodadi sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan Kirab Boyong Grobog ini. Tradisi ini bukan hanya seremoni budaya, tetapi menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berakar pada nilai sejarah dan kearifan lokal. Semangat kebersamaan dan gotong royong inilah yang juga menjadi landasan kami dalam mengelola hutan secara lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkap Untoro.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa momentum tiga abad Grobogan harus menjadi tonggak penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
“Grobogan memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Dengan semangat sejarah dan persatuan seperti yang tergambar dalam Boyong Grobog, kita optimistis sektor pertanian Grobogan akan semakin maju, modern, dan berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Grobogan Setyo Hadi menuturkan bahwa peringatan 3 Abad Grobogan menjadi momentum refleksi dan proyeksi masa depan daerah.
“Boyong Grobog adalah simbol perjalanan panjang pemerintahan dan masyarakat Grobogan. Tiga abad bukanlah waktu yang singkat. Ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, melestarikan budaya, dan bersama-sama membangun Grobogan yang lebih maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujar Bupati.
Melalui kegiatan Kirab Boyong Grobog ini, diharapkan nilai-nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan terus terjaga serta menjadi inspirasi dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Grobogan yang berdaya saing dan berkarakter di usia yang ke-300 tahun.
Editor : Aris