Grobogan – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Agroforestry Tebu pola kemitraan bersama Koperasi Warga Perum Perhutani (KWPHT) di Petak 170B4 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Welahan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Linduk, pada Jumat (12/12).
Kegiatan Monev tersebut diikuti oleh jajaran Perhutani KPH Purwodadi, pengurus KWPHT, serta masyarakat sekitar hutan yang terlibat langsung sebagai tenaga kerja pada lokasi Agroforestry Tebu kemitraan. Monev dilaksanakan sebagai bagian dari evaluasi pasca panen sekaligus memastikan kesiapan lokasi untuk memasuki musim tanam tahap kedua, termasuk pemeliharaan awal tanaman tebu agar produktivitas dapat terus meningkat.
Agroforestry Tebu merupakan salah satu skema kemitraan Perhutani yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan komoditas pertanian, dalam hal ini tebu, dengan tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan. Melalui pola ini, Perhutani tidak hanya menjaga fungsi ekologis kawasan hutan, tetapi juga membuka ruang peningkatan pendapatan masyarakat sekitar hutan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan budidaya, perawatan, hingga panen.
Dalam kegiatan tersebut, tim Monev melakukan pengecekan kondisi lahan pasca panen, kesiapan sarana produksi, serta membahas teknis penanaman ulang dan pemeliharaan awal seperti pengolahan tanah, penanaman bibit, dan pengendalian gulma. Diskusi juga dilakukan untuk menyerap masukan dari mitra dan tenaga kerja guna perbaikan pelaksanaan pada musim tanam berikutnya.
Administratur KPH Purwodadi melalui Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata KPH Purwodadi, Yunasri, menyampaikan bahwa kegiatan Monev menjadi langkah penting untuk memastikan program Agroforestry Tebu berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat berkelanjutan.
“Monitoring dan evaluasi ini kami lakukan untuk melihat secara langsung hasil pasca panen sekaligus mempersiapkan penanaman tahap kedua. Melalui Agroforestry Tebu, Perhutani berkomitmen mengelola hutan secara produktif dan lestari, sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar hutan,” ujar Yunasri.
Sementara itu, Ketua KWPHT, Farhan, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Perhutani, koperasi, dan masyarakat dalam pelaksanaan Agroforestry Tebu kemitraan.
“Kemitraan ini memberikan ruang bagi koperasi dan masyarakat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan lahan hutan secara legal dan terarah. Dengan adanya Monev, kami bisa mengevaluasi kekurangan dan memperbaiki pola kerja agar hasil ke depan lebih optimal,” ungkap Farhan.
Salah satu warga yang terlibat sebagai tenaga kerja, Muhamad Muiz, mengaku merasakan manfaat langsung dari program tersebut, terutama dalam hal kesempatan kerja dan tambahan penghasilan.
“Kami merasa terbantu karena bisa bekerja di sekitar hutan dengan pendampingan dari Perhutani. Selain menambah penghasilan, kami juga jadi lebih paham cara merawat tanaman tebu yang baik,” tutur Muiz.
Melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi ini, Perhutani KPH Purwodadi berharap pelaksanaan Agroforestry Tebu pola kemitraan dapat terus berkembang, meningkatkan produktivitas lahan, memperkuat hubungan dengan masyarakat, serta mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berkeadilan. (Mj-A)
Editor : Aris