PURWODADI, PERHUTANI (28/06/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi, komunikasi sosial, serta pemantauan panen tanaman jagung tumpangsari bersama para pesanggem di kawasan hutan petak 14 wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Peting, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangasem, pada Senin (29/06).
Kegiatan yang dilaksanakan jajaran BKPH Karangasem bersama petugas RPH Peting tersebut bertujuan untuk memastikan pelaksanaan panen jagung berlangsung sesuai ketentuan, tidak menimbulkan kerusakan terhadap tegakan maupun tanaman kehutanan, serta tetap menjaga fungsi kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan. Selain melakukan pemantauan di lapangan, petugas juga memberikan sosialisasi kepada para pesanggem mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan selama kegiatan budidaya tanaman pangan dengan sistem tumpangsari.
Dalam kesempatan tersebut, petugas mengingatkan agar proses panen dilakukan secara hati-hati, tidak menebang atau merusak pohon kehutanan, tidak membakar sisa tanaman, serta menjaga kebersihan kawasan hutan. Melalui komunikasi sosial yang intensif, Perhutani juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat kemitraan dalam pengelolaan hutan yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Administratur KPH Purwodadi Untoro Tri Kurniawan, melalui Kepala BKPH Karangasem Sri Purwanto, menyampaikan bahwa pola tumpangsari merupakan salah satu bentuk kemitraan Perhutani dengan masyarakat yang mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan aspek kelestarian hutan.
“Perhutani terus mendorong pengelolaan hutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar hutan melalui pola agroforestri. Kegiatan panen jagung ini menjadi bukti bahwa hutan dapat memberikan nilai ekonomi apabila dikelola secara bijaksana dan tetap mengedepankan kelestarian. Karena itu kami terus melakukan pendampingan, sosialisasi, dan pengawasan agar seluruh aktivitas pertanian di kawasan hutan berlangsung sesuai aturan serta tidak merusak tegakan maupun ekosistem hutan,” ujar Sri Purwanto.
Sementara itu, Kepala RPH Peting Budi Hartono menjelaskan bahwa kegiatan pemantauan panen dilakukan sebagai bagian dari pembinaan kepada para pesanggem agar pengelolaan lahan tumpangsari berjalan tertib dan mendukung pertumbuhan tanaman kehutanan.
“Kami selalu hadir mendampingi masyarakat, mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga panen. Pendampingan ini bertujuan memastikan kegiatan pertanian tidak mengganggu pertumbuhan tanaman hutan. Kami juga mengingatkan agar setelah panen lahan tetap dirawat dengan baik sehingga fungsi hutan tetap terjaga dan kemitraan ini dapat terus berlanjut,” jelas Budi Hartono.
Salah seorang pesanggem asal Dusun Peting, Darmo, mengaku merasakan manfaat dari program tumpangsari yang difasilitasi Perhutani. Menurutnya, hasil panen jagung mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.
“Kami sangat bersyukur dapat memanfaatkan lahan di bawah tegakan melalui kerja sama dengan Perhutani. Hasil panen jagung ini sangat membantu kebutuhan keluarga. Kami juga memahami bahwa hutan harus dijaga, sehingga saat bekerja di lahan kami selalu berusaha tidak merusak pohon maupun lingkungan. Harapan kami, kemitraan seperti ini dapat terus berjalan karena memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan,” ungkap Darmo.
Melalui kegiatan sosialisasi, komunikasi sosial, dan pendampingan kepada para pesanggem, Perhutani KPH Purwodadi berharap terwujud sinergi yang semakin kuat antara perusahaan dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang produktif, lestari, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan. (Kom-PHT/Pwd/Aris)
Editor : Aris